Fenomena mandi lumpur di TikTok adalah sebuah trend di mana pengguna platform media sosial ini melakukan live streaming dengan mandi lumpur, dengan harapan mendapatkan banyak hadiah atau “gift” dari penonton. Gift ini dapat ditukar dengan uang. Live streaming tersebut dilakukan dengan menyiapkan kolam lumpur, lalu mereka melumuri seluruh tubuh mereka dengan lumpur sambil berinteraksi dengan penonton, memberikan komentar atau mengucapkan terima kasih. Beberapa kreator mungkin rela kotor dan kedinginan demi mendapatkan gift yang bernilai tinggi. Mereka bersedia kotor dan kedinginan demi mendapatkan banyak gift atau hadiah dari penonton. Gift tersebut dapat ditukar dengan sejumlah uang.
Eksploitasi Kemiskinan
Meskipun ada kreator yang memperoleh penghasilan yang cukup besar dari live mandi lumpur TikTok, banyak yang menganggap aksi ini sebagai “tren ngemis” yang tidak kreatif dan merugikan bagi kreator yang tidak memiliki kreativitas. Selain itu, beberapa orang juga menganggap ini sebagai eksploitasi dari kalangan yang miskin dan menyayangkan melihat orang-orang yang rela mengorbankan kesehatan mereka demi uang. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa faktor sosio-ekonomi yang mendorong individu untuk
Angga Prawadika Aji SIP MA (Dosen Departemen Komunikasi FISIP Unair) menjelaskan bahwa orang-orang yang melakukan live mandi lumpur di TikTok adalah orang-orang yang berusaha menarik perhatian dengan berbagai macam strategi, sebagai salah satu cara untuk mendapatkan popularitas dan uang. Ia juga menyatakan bahwa praktik ini sudah lama terjadi, dengan tayangan eksploitasi kemiskinan sering muncul dan memiliki banyak penonton. Namun, praktik seperti ini tidak dapat diterima karena melakukan eksploitasi pada diri sendiri atau orang lain demi keuntungan finansial.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menyatakan bahwa fenomena live mandi lumpur di TikTok dapat dikatakan sebagai fenomena pengemis yang pindah dari jalan ke media sosial. Menurutnya, ini merupakan perkembangan yang buruk bagi media sosial karena aksi-aksi yang paling nekat dan konyol yang mendapat perhatian yang lebih besar dari publik, yang sangat tidak diterima.
Stop Mandi Lumpur di Tiktok
Ia menambahkan bahwa fenomena ini terjadi di banyak negara dan menyebutkan China, dan menyatakan bahwa banyak cara yang dapat digunakan oleh media sosial yang lebih produktif, seperti sebagai afiliator penjualan produk, dan hal ini harus diterapkan oleh platform media sosial.
Dalam kesimpulannya, fenomena mandi lumpur di tiktok tidak seharusnya diperbolehkan dan tidak dapat diterima, platform media sosial harus memberikan aturan yang lebih ketat dalam kontennya agar tidak memperparah masalah sosial dan tidak menyediakan konten yang tidak bermutu.
Sebagai pengguna aktif di media sosial, netizen memiliki peran penting dalam menghentikan praktik eksploitasi kemiskinan seperti live mandi lumpur di TikTok. Mereka dapat bersatu dan memberikan tekanan pada kreator atau platform media sosial untuk menghentikan praktik yang tidak etis ini. Netizen juga dapat menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran tentang masalah ini, dan menunjukkan bahwa eksploitasi masyarakat rural sebagai hiburan tidak dapat diterima. Pemberdayaan netizen dalam menghentikan praktik ini penting untuk mencegah eksploitasi dan memperbaiki perkembangan media sosial secara keseluruhan.
Tips Hentikan Fenomena Mandi Lumpur di Tiktok
Sementara itu, Dosen Jualan saat diskusi dengan penulis menyampaikan beberapa pandangannya tentang fenomena ini. Ketika diskusi mengerucut pada pertanyaan “bisakah fenomena ini distop?” Dosen Jualan memaparkan buah pikirannya. Menurutnya, beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menghentikan fenomena mandi lumpur di TikTok diantaranya:
- Memberikan edukasi kepada pengguna TikTok tentang dampak negatif dari praktik ini, termasuk pada kesehatan dan kesejahteraan kreator yang terlibat.
- Menyediakan informasi tentang alternatif pekerjaan atau cara untuk meningkatkan pendapatan bagi kreator yang mungkin terpaksa melakukan live mandi lumpur untuk mencari uang.
- Mengembangkan kampanye yang mengajak netizen untuk tidak memberikan “gift” kepada kreator yang melakukan live mandi lumpur dan memberikan dukungan kepada kreator yang menawarkan konten yang lebih positif dan konstruktif.
- Membuat aturan yang lebih ketat tentang konten yang diperbolehkan di TikTok dan menerapkan sanksi bagi kreator yang melanggar aturan tersebut.
- Mendukung dan memberikan dukungan kepada inisiatif-inisiatif yang berfokus pada pengembangan kreativitas dan edukasi dalam komunitas TikTok.
- Menyediakan dukungan untuk kreator yang terlibat dalam praktik eksploitasi diri untuk meningkatkan kesejahteraan dan mencari alternatif pekerjaan.
- Mendorong peran aktif dari media sosial dan penyedia platform untuk mengambil tindakan yang sesuai untuk menghentikan praktik ini.
- Mengajak komunitas netizen, kreator dan penyedia platform untuk bekerja sama dalam mempromosikan konten positif dan konstruktif, dan memberikan dukungan kepada kreator yang menyajikan konten seperti itu.
Bagaimana menurut Anda tentang fenomena ini? Wajar atau tidak wajar? Dilestarikan atau dihentikan? Tuliskan pendapatmu di kolom komentar.

