Normal
0
false
false
false
EN-US
X-NONE
X-NONE
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,sans-serif;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
Sheila On 7 dan Ilmu Membangun Pondasi Bisnis. Yang mungkin sering dilupakan oleh
banyak orang adalah membangun pondasi bisnis agar bisnisnya bisa bertahan dalam
umur yang panjang. Dalam situasi apapun. Apa? Relationship. Hubungan yang
intim, akrab, emosional, antara owner, produk, dan konsumennya.
Bisnis-bisnis yang kuat di sisi ini,
pada umumnya akan stabil dan tetap bertahan dalam usia yang sangat panjang.
Bukan hanya bisnis sih. Berlaku di semua hal. Tapi contoh paling gampang ya
band. Ratusan band bermunculan tapi yang mungkin bisa tetap eksis sampai
puluhan tahun dan melewati beberapa generasi fansnya hanyalah beberapa biji.
Bisa diitung dengan jari.
Dalam konteks Jogja bisa disebut Sheila
on 7 yang sampai hari ini jobnya masih mengalir deras dan masih dicintai
“konsumennya”. Sheila mungkin band yang nyaris tanpa haters karena
berhasil membangun komunikasi yang baik dalam ” Bisnis Band nya”
serta membangun relationship yang baik antara band dan fansnya. Java Jive dan
Kahitna contoh lain yang bisa disebut.
Mereka memang bukan band yang
sensasional atau wow banget. Cenderung simpel, bersahaja, tidak neko-neko,
bahkan secara ekstrem tidak ngartis banget. Perform biasa-biasa saja, tarif
juga wajar-wajar saja, attitude standar saja. Tapi jadwal manggung terus
mengalir bahkan seringkali ada yang harus ngantri booking jadwal panggung.
Meski sudah terhitung band berumur. Dua puluh tahun lebih.
Yang lebih banyak terjadi adalah yang
model muncul sesaat, panen besar, habis itu tenggelam ditelan bumi. Mungkin
yang terbanyak begitu apalagi yang kemunculannya mengandalkan sensasi, gimik,
kontroversi. Band macam gitu biasanya paling lama bertahan di durasi lima
tahunan. Habis itu orang lupa dengan namanya, lagunya, personilnya. Semuanya.
Mereka cepat hilang diterpa angin karena melupakan satu hal: relationship.
Dalam konteks marketing atau branding, relationship yang dibangun intim,
hangat, dekat inilah yang akan membentuk banyak ava ngelist yang akan terus
menerus mempromosikan dan agar orang lain juga setia. Pola ini yang akan
membuat sebuah produk bertahan lama, melintasi generasi.
Nah, tinggal kitanya ketika punya
produk ini ingin sekedar berjualan atau membangun sebuah bisnis. Yang ingin
panen raya sesaat, kaya raya dalam hitungan jam, tapi setelah itu orang lupa
siapa dia dan brandnya apa? Atau ingin yang berproses perlahan karena
benar-benar ingin membangun bisnis satu abad dengan memulainya dari pondasi
yang paling mendasar dari bisnis: relationship.
Jadi pada akhirnya semua akan kembali
pada pilihan. Memilih jualan sesaat tapi mendapatkan angka-angka yang fantastis
tapi setelah itu hilang terbawa angin lalu. Atau mau berbisnis untuk membuat
sejarah panjang sekaligus mewariskan value sehingga terbawa oleh angin sepoi
melintaa antar generasi. Balik lagi, mau pilihan yang mana. Ada pilihan
rasional atau emosional.
Relationship dan Indenpendensi
Oh iya, satu hal yang mungkin dilupakan
oleh kebanyakan pebisnis muda selain prinsip relationship adalah independensi.
Semakin independen semakin mengarah pada kuatnya bisnis yang akan bisa bertahan
dalam jangka panjang. Apa indikasinya? Salah satunya adalah aturan main.
Semakin aturan mainnya tidak tergantung
pihak lain maka semakin punya potensi untuk berumur panjang. Apalagi jika semua
aturannya terserah kita sendiri. Tidak ada faktor dari pihak lain. Bisnis akan
kokoh jika punya ini. Tapi jika masih tergantung amat sangat oleh algoritma
atau aturan main yang dibuat, diubah-ubah, ditentukan pihak lain, ya semakin
mengecil potensi stabil dan suistinabelnya. Karena sedikit saja pihak yang
punya aturan mengubah model atau algoritma nya maka seketika itu juga bisa
ambyar pola jualannya. Kestabilan omset, apalagi brand, menjadi sangat sulit
terjadi.
Jadi, mau pilih yang mana? Kaya raya
sesaat atau berkecukupan tapi selamanya bersama brand yang dipunya? Tapi mau
yang mana pilihannya, tetap sehari kita makannya hanya tiga piring. Semua baru
terasa nikmat ketika kita sudah lapar. Sebetulnya hanya sebatas itu kebutuhan
kita. Yang semuanya akan menjadi tai juga.
Kecuali yang Anda beli adalah kenangan,
pengalaman, pengetahuan. Yang Anda dapatkan tidak akan pernah menjadi tai.
Karena semua melekat erat di dalam kepala dan tersimpan di dalam hati….
Demikianlah. Sekadar ikut meramaikan
alun-alun yang sekarang sudah dipagar rapat sehingga publik kehilangan tempat
dan ruang berekspresi dengan santai….
Tulisan ini adalah Karya Kakak sekaligus Guru saya : Among Kurnia Ebo


